Install Theme

Your web-browser is very outdated, and as such, this website may not display properly. Please consider upgrading to a modern, faster and more secure browser. Click here to do so.

So, truly with hardship come ease.

"Hidup itu berhenti, lantas jalan. Henti. Jalan lagi. Kau tidak akan paham apa itu ujung sebelum tiba di negeri abadi."
-- Fathia Rahma --
Apr 22 '14

Wild.

Wild. http://wp.me/s2B72k-wild

Bismillahirrahmanirrahim.

Langit lelah; bumi menggerutu?
Tidak. Manusia kira begitu.
Suatu hari, aku samakan diri dengan semesta;
mereka lelah seiring masa,
aku letih menanti cinta.
Dan ternyata,
salah.

Langit setia turunkan hujan,
bumi tengadah,
menatap mesra.
Kau kira mereka lelah?
Tidak; kita terlalu banyak menduga.

Aku perlu belajar dari langit,
yang tidak bisa memeluk bumi;
tapi tangisnya sembuhkan…

View On WordPress

Tags: apapun Curcol imajinasi iseng L.O.V.E Mamase marriage Today Story

Apr 20 '14

Bismillahirrahmanirahim.

Semangat saya untuk menuliskan apa-apa yang saya dapatkan dari liburan 10 hari di Serambi Mekah pada bulan Agustus tahun lalu perlahan melenyap seiring waktu. Dari 10 hari saya baru menuliskan 4 hari yang saya lalui di provinsi paling Barat Indonesia; bisa dilihat di sini, sana, sono dan situ. Nggak ada yang tahu kapan saya akan tergerak untuk menuliskan cerita perjalanan yang entah kapan bisa terulang kembali, sampai akhirnya seorang kontak saya di Facebook, Kak Hijrah, nge-share sebuah link tentang lomba yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Banda Aceh. Lebih lengkapnya bisa dicek sendiri di sana, ya.

Awalnya, saya mau mengirimkan link tulisan-tulisan tentang Aceh yang sudah ditulis sebelumnya, didukung oleh faktor ‘m’ alias malas :mrgreen: . Tapi, dikarenakan saya ini tipe penulis blog ‘all in’ alias satu postingan bakal berisi tentang banyak hal, padahal lomba nulis blog ini ada sub temanya, akhirnya saya memutuskan untuk menulis ulang mengenai beberapa tempat yang saya kunjungi setengah tahun lalu. Tema lomba blog kali ini adalah ‘Charming Banda Aceh, Tulis dan Perkenalkan Banda Aceh ban sigom donya‘. Sumpah, saya nggak ngerti sama sekali tentang bahasa Aceh tapi berdasarkan ‘terawangan’ saya, ban sigom donya itu artinya ‘ke seluruh dunia’. Kalau salah mohon diampuni *sungkem* :lol: . Dan untuk lomba kali ini saya akan mengambil sub tema ‘wisata tsunami’.

___
Saya masih inget banget waktu itu saya masih sekitar kelas 5 SD. 26 Desember 2004. Saya lagi libur dan sedang ‘asik’ menonton di depan televisi. Ibu saya lagi sibuk di dapur dan saya asik menonton kartun. Tetapi, tiba-tiba semua televisi membicarakan topik yang sama; ada bencana besar di ujung Sumatera. Saya yang waktu itu masih berusia 11 tahun sudah cukup ‘besar’ untuk mampu menyerap semua informasi yang didapat. Jujur saja, saya menangis. Ibu saya juga. Semua berduka. Indonesia lagi-lagi diuji iman oleh Sang Maha Segala.

Kemudian seiring waktu; semua kembali sama. Walaupun saya tahu luka-luka lama masih kental di hati-hati yang di sana. Kehilangan, tangis, do’a. Semua melebur jadi satu di atas langit dunia. Saya teringat sekali ketika suara Sherina menghiasi layar-layar kaca;

Tuhan marahkah Kau padaku
Inikah akhir duniaku
Kau hempaskan jari-Mu di ujung banda
Tercenganglah seluruh dunia

Tuhan mungkin Kau abaikan
Tak ku dengarkan peringatan
Kusakiti Engkau sampai perut bumi
Maafkan kami Ya Robbi

Engkau Yang Perkasa Pemilik Semesta
Biarkanlah kami songsong matahari

Engkau Yang Pengasih ampunilah dosa
Memang semua ini kesalahan kami

Oh… Tuhan ampuni kami
Ou..oh… Tuhan tolonglah kami
Tuhan ampuni kami
Tuhan tolonglah kami
_____
Saya tidak pernah menyangka bahwa 9 tahun sejak hari itu, akan datang kesempatan saya untuk mengunjungi dan melihat sendiri ‘sisa-sisa’ duka yang ada di serambi mekah. Kebetulan, salah satu adik ibu saya menikah dengan orang Aceh dan rutin pulang kampung ketika lebaran. Lebaran tahun lalu saya berkesempatan untuk ikut mudik ke Aceh. Bahagia? Jelas! Sudah lama saya ingin melihat ujung barat Indonesia yang terkenal dengan kecantikan alamnya. Selain itu, cerita tsunami 9 tahun lalu memberikan ‘kenangan’ tersendiri pada diri saya dengan cara yang tidak saya pahami. Tentu saja saya ingin melihat sendiri keadaan di sana, dan suasana Islam yang ‘katanya’ sangat kental pula.

Dari 10 hari yang saya lalui di Aceh dan dari banyak tempat yang saya kunjungi, saya akan menceritakan beberapa tempat yang ‘berhubungan’ dengan kejadian tsunami beberapa tahun lalu. Sebenernya, dari mulai transit di bandara Kualanamu Medan saja saya udah sangat excited. Harapan-harapan saya tentang liburan asik di Aceh sudah memenuhi imajinasi saya. Sejam setelah pesawat terbang dari Medan dan mau mendarat, saya melihat pemandangan yang magnificent! Sepanjang Medan – Aceh pemandangannya dipenuhi dengan dataran-dataran tinggi yang hijau kayak hutan. Saya keinget bukit barisan yang memang meluas sepanjang pulau sumatera. Nggak kayak waktu pesawat mau mendarat di Bandara Soetta yang pemandangannya berkisar antara laut warna butek – tumpahan minyak yang memantulkan warna mengkilat atau kapal-kapal besar yang jadi pencemar, laut Aceh birunya bener-bener cantik! Saya bisa dengan jelas melihat pinggiran pantai yang pasirnya putih dan laut yang bening kehijauan dari atas pesawat. Apalagi pilotnya asik banget, ngajak kita muterin laut dulu sebelum akhirnya mendarat. Lagi-lagi sayang saya nggak mengabadikannya. Saya terdiam sendiri dan berpikir; panta-pantai yang segitu cantik pernah pada suatu masa porak poranda karena bencana. But still, saya yakin liburan kali ini bakal seru. So, Aceh here I come!

Awalnya saya diajak oleh om dan tante saya keliling sekilas ngeliat kota Aceh. Aceh ternyata nggak kayak yang saya bayangin. Saya kira karena Aceh itu negeri yang cukup jauh dari ibukota bakalan ‘ndeso‘ banget dan saya ‘kecele’ sendiri ketika tahu bahwa persepsi saya salah :mrgreen: . Aceh ternyata ‘sangat kota’ dan gaul banget; bahkan di mall-nya ada Body Shop! :lol: . Beda dengan Lombok yang memang masih ‘kurang gaul’ bagi saya, Aceh ternyata kota yang cukup nyaman buat tinggal. Meski cuacanya panas, tapi seenggaknya saya nggak bakal ngerasa ‘jauh dari peradaban’ kalo tinggal di sana. Saya ngeliat masjid Baiturrahman secara langsung untuk pertama kalinya dan diajak ke suatu daerah yang banyak pertokoan tuanya (saya nggak tau itu daerah mana). Sambil diajak keliling saya juga diceritain mengenai kota Aceh yang saya tahu ketat dengan peraturan islamnya di mana perempuan muslim wajib berjilbab, tiap adzan sholat wajib dan sholat jum’at semua toko wajib tutup bahkan di sana ada polisi syari’atnya segala. Jadi, kalo seorang muslim ‘kurang beruntung’ dan kepergok nggak pakek jilbab di tempat umum, siap-siap aja diangkut pakek mobil polisi, haha.

Terus saya juga diceritain beberapa hal mengenai peristiwa besar tahun 2004, tsunami. Saya yang penasaran menanyakan di mana saja tempat-tempat yang terkena dan bener-bener merinding pas ngebayangin peristiwa 9 tahun lalu itu. Masjid Baiturrahman cukup terkenal ‘ceritanya’ ketika kejadian tsunami itu terjadi. Tante saya bercerita, jadi ketika tsunami terjadi dan orang-orang berlari menuju masjid Baiturrahman, atas kuasa Allah, gelombang besar tsunami ‘mendadak’ surut di sekitaran masjid itu. Orang-orang mengungsi di halaman dalam masjid Baiturrahman untuk berlindung. Selain itu, ada sebuah kisah unik juga di mana ada seorang non-muslim keturunan cina yang mempunyai toko besar di dekat masjid Baiturrahman, ketika peristiwa tsunami terjadi istilahnya dia itu mengalami pengalaman religius. Singkat cerita, ketika tsunami terjadi orang itu seperti merasa ada yang menggiringnya ke masjid Baiturrahman sehingga dirinya selamat dan akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang muslim. MasyaAllaah. Selain melewati masjid Baiturrahman, saya juga sempat terdiam dan merenung sendiri ketika melewati kuburan masal. Benar-benar merinding saya membayangkan nasib orang-orang yang akhirnya dinyatakan hilang dan dikuburkan bersama di tanah luas itu.

a1

Setelah puas istirahat dan sholat, sorenya saya diajak buat keliling. Enaknya di Aceh, waktu sholatnya karet banget. Shubuh baru jam 6, Dzuhur jam 13, Ashar jam 16, Maghrib jam 19 dan Isya’ jam 20.15, saya berasa bisa agak ‘leha-leha’ perkara sholat karena saya terbiasa dengan waktu sholat yang mepet pas di Jogja ataupun Bogor. Saya agak bingung juga, jam 6 sore tapi langit masih terang benderang, kata paman saya, biasanya orang-orang Aceh kalo jalan-jalan itu malah pas jam setengah 6-an, kalo di Jawa mah mungkin udah gelap.

Sore itu saya diajak ke Pantai Uleelheu. Di perjalanan saya ditunjukkin lagi beberapa kuburan masal tempat disemayamkannya korban-korban tsunami Aceh yang tidak teridentifikasi. Pantai Uleelheu menjelang sore bagus, deh. Di sekelilingnya nampak Bukit Barisan dan di seberang mata terlihat bayangan Pulau Sabang. Di deket pantai itu juga ada pelabuhan tempat kapal dari dan ke Sabang berlabuh. Ceritanya, dulu sepanjang pantai Uleelheu itu banyak perumahan bea cukai, setelah kejadian tsunami, perumahan bea cukai itu sekarang udah digantiin ama perairan. Kebayang kan gimana ‘ganasnya’ tsunami; bahkan perumahan aja sekarang tidak berbekas dan hanya nampak air di mana-mana. Nah, di seberang pulang Uleelheu itu juga ada muara yang menghadap bukit. Cakep banget. Kalo mau nikmatin pantai Uleelheu, di sepanjang pantai disediain tempat buat duduk-duduk sambil nongkrong.

a10

Tempat ‘berbau tsunami’ ketiga yang saya kunjungi adalah daerah Leupung!  Apa itu Leupung? Jadi, alkisah ada sebuah jalan panjang nan kece *sumpah kece, pemandangannya bener-bener luar biasa! MasyaAllaah!* yang dibangun paska Tsunami 2004. Nah, itu jalan, kerennya, ampek ngebelah gunung gitu *disengaja tentunya, ya kali masa’ simsalabim ada jalan di tengah gunung :lol: *. Ceritanya, ada gunung yang dibom atau entah diapain, jadinya di tengah-tengah gunung itu ada jalan. Disebut pegunungan paro. Katanya, jalan itu kalau dititi *halah bahasa gue :lol: * terus bakal mengantarkan kita ke Meulaboh. But, karena Meulaboh itu di ‘ujung’, jadinya saya nggak dibawa sampai ke sana. Terus saya dibawa kemana? Saya dibawa ke sebuah tempat yang namanya Geureutee.

Jalan menuju ke sana berkelok-kelok dan semacam menanjak, tapi nggak kerasa begitu melelahkan karena yang nyetir bukan saya pemandangan di sekitar jalan tersebut cantiknya bukan main. Jujur aja, saya lebih suka pemandangan di Aceh ketimbang Lombok yang menurut banyak orang kece luar biasa. Suasananya masih tradisional dan semacam jauh dari peradaban *ya gak gitu amat sih, peace ya orang Aceh, jangan tusuk saya pakek rencong :mrgreen: *, maksudnya, bener-bener masih suasana ‘pinggiran’ banget, bayangin aja, banyak sapi berkeliaran di tengah jalan utama! :lol:

Dimana-mana laut, di mana-mana air. Saya diceritain juga bahwa daerah Leupung ini menjadi salah satu daerah yang ‘lumayan parah’ ketika tsunami terjadi. But so far, setelah 9 tahun berlalu dan tentu saja sudah ada perbaikan di sana sini, seperti yang saya bilang, pemandangan sepanjang jalan menuju ke sana itu luar biasa!

Singkat cerita, sampai lah kita di ‘atas’. Saya bener-bener speechless heboh nggak keruan melihat pemandangan yang disuguhkan. Allah bener-bener hebat! Jadi kita berenti di sebuah spot di mana kita bisa naik tangga ke tempat yang lebih tinggi untuk melihat pemandangan dengan lebih jelas. Selain itu, di tepi jalan, terdapat beberapa warung makan (semacam warung-warung kecil kayak di Puncak Bogor gitu) yang viewnya mengarah langsung ke laut. Luar biasa cantik; tempat makan mewah kelas atas pun nggak akan bisa nyuguhin pemandangan kayak gitu. Jadi kita naikkin tangga dulu buat ngeliat pemandangan laut dengan lebih jelas dan foto-foto di sana. Pemandangan lautnya luar biasa dengan laut biru kehijauan dan dari jauh terlihat 2 pulau yang terpisah di tengah laut. Sayangnya cuaca agak mendung dan langit tidak biru. Oh iya, soal 2 pulau yang ‘nampak terpisah’ di tengah laut itu, jadi ceritanya, 2 pulau itu tadinya merupakan 1 kesatuan, tapi, karena tsunami tahun 2004, bagian tengah dari pulai itu kelelep air laut, jadinya sekarang pulau itu nampak seperti 2 pulau yang terpisah.

a16

Tempat selanjutnya adalah PLTD Apung. Sebenernya saya sampai dua kali ke sana. Pertama ke sana udah kesorean dan tempatnya keburu ditutup. Kedua, kesorean juga cuma untungnya ada bapak penjaga yang baik hati mengizinkan saya sebentar melihat-lihat dengan alasan itu hari terakhir saya di Aceh dan saya bakal sedih banget kalau nggak sempat masuk ke sana, hahaha :lol: . Apakah PLTD Apung ini? Sebenernya ini merupakan tempat wisata tsunami yang cukup ngehits di masyarakat. Gimana enggak ngehits; ‘berpindahnya’ kapal seberat 2600 ton ini sejauh beberapa kilometer dari Pelabuhan Ulhee Leueu cukup dapat menggambarkan gimana dahsyatnya musibah saat itu. Saya sendiri takjub dan merinding; Tuhan bisa melakukan segalanya. Kapalnya asli guede buanget! Nggak cuma kapal ecek-ecek yang biasa dipake nelayan untuk mencari ikan; nggak kebayang kan gimana bisa kapal itu ‘berpindah’ tempat ‘cuma’ karena ‘air’? Saya sempat melihat sekilas kapal tersebut berhubung sudah waktunya tempat itu tutup juga. Katanya, kapal itu sengaja tidak dipindahkan biar menjadi sejarah dan membuat orang berpikir juga atas kejadian di masa lalu. Bekas-bekas bangunan rumah yang hancur karena tsunami juga dibiarkan ‘alami’ sebagaimana paska kejadian dan tidak dirubah. Selain itu terdapat juga monumen tsunami yang memperlihatkan pahatan gelombang tsunami juga tanggal dan waktunya dan beberapa nama korban yang diketahui.

a20

Dan tempat ‘berbau’ tsunami yang saya kunjungi adalah Aceh Tsunami Museum (ATM)! Mungkin sudah banyak orang yang tahu mengenai tempat yang satu ini. Sebenernya dari awal saya tiba di Aceh, bangunan museum ini benar-benar ‘menarik’ perhatian saya. Gimana enggak, bentuknya dari luar itu keliatan unik banget. Jujur aja tempat berbau tsunami yang paling ‘mengena’ di hati saya adalah museum ini. Angkat topi untuk Pak Ridwan Kamil yang sudah dengan sangat keren mendesain bangunan ini; yang lebih bikin saya tercengang lagi adalah ‘filosofi-filosofi’ di setiap sudutnya.

a33
Di bagian depan museum, saya langsung disuguhkan oleh sebuah helikopter rusak yang diterjang tsunami 9 tahun lalu. Lagi-lagi saya datang pas museum sudah hampir tutup sehingga saya tidak bisa menikmati museum dengan tenang. Dari pintu masuk, saya langsung disambut sebuah lorong gelap yang disebuh Space of Fear (Lorong Tsunami). Ya, gelap. Dan lembab. Ruangan gelap ditambah turunnya air di kanan kiri dinding itu memang didesain untuk menggambarkan bagaimana suasanan ketika tsunami datang dan siap ‘menelan’ manusia. Jujur aja saya merinding dan ketakutan sendiri; buru-buru saya melangkah sampai tiba di sebuah ruangan yang disebut Space of Memory (Ruang Kenangan). Ruangan di ujung lorong dari pintu masuk tadi juga remang-remang; dan terdapat beberapa benda yang tampak seperti prasasti batu di dalam ruangan itu. Terdapat sebuah layar di batu-batu itu (standing screen) yang menayangkan foto-foto ketika dan paska kejadian tsunami. Ruangan itu dikelilingi oleh kaca-kaca dan disoroti oleh lampu yang membuat ruangan tampak terang tapi sendu dan temaram.

Setelah melewati ruang itu, ada sebuah ruangan yang menjadi favorit saya; namanya Space of Sorrow (Ruang Sumur Doa). Ruangan itu bentuknya bulat, ketika memasukinya seperti kita memasuki sebuah menara kosong yang tinggi. Ketika masuk sana; temaram. Ruang itu hanya dihiasi oleh lampu yang menempel di tembok. Yang membuat saya merinding adalah nama-nama yang menghiasi dinding tersebut. Ada banyak sekali nama korban tsunami yang menghiasi dindingnya; dan ketika kita mendongak ke atas maka kita akan melihat tulisan Allah yang ‘bercahaya’. Sensasi yang saya rasakan benar-benar luar biasa! Allahu Akbar.

Dari ruangan tersebut saya harus meniti sebuah jalan yang agak menanjak dan berkelok. Jujur aja saya pusing ketika melewati jalan tersebut, dan benar saja, ruangan itu diberi nama Space of Confuse (Lorong Cerobong); yang didesain memang untuk menggambarkan kebingungan para korban tsunami saat itu. Dan setelah itu sampailah saya di sebuah ruangan besar dan terang dengan jembatan di bawahnya serta banyak bendera dari berbagai negara di langit-langitnya; namanya Space of Hope (Jembatan Harapan). Dari sana saya sempat memasuki ruangan yang juga memajang beberapa foto paska tsunami. Sebenarnya masih banyak hal lain yang bisa dilihat di sana; seperti teater yang memutar video tsunami berdurasi 15 menit, miniatur ombak tsunami, simulasi gempa yang bisa diatur derajat richternya dan lain-lain. Selain itu, ‘katanya’ di bagian atas dari bangunan ini terdapat suatu ‘bukit’ yang khusus didesain sebagai tempat penyelamatan kalau-kalau suatu hari tsunami terjadi lagi. Keren! Tapi, dikarenakan waktu saya berkunjung bertepatan dengan waktu tutupnya museum, akhirnya saya harus puas dengan kunjungan singkat ke sana. Suatu hari saya harus kembali. InsyaAllah.

Begitu lah pengalaman saya di beberapa tempat ‘berbau’ tsunami, Aceh. Tahun ini tepat 10 tahun sejak hari itu; Aceh sudah banyak dibenahi dan semoga kejadi serupa tidak akan pernah terulang lagi. Semoga duka yang menyelimuti para keluarga yang ditinggalkan dan para korban segera pulih; insyaAllah kita semua akan bertemu lagi di tempat yang lebih baik. SurgaNya :)

Dan oh ya, tulisan ini saya ikut sertakan lomba di sini; semoga menang! Aamiin :D

[BANDA ACEH BLOG COMPETITION] 10 Tahun. Bismillahirrahmanirahim. Semangat saya untuk menuliskan apa-apa yang saya dapatkan dari liburan 10 hari di Serambi Mekah pada bulan Agustus tahun lalu perlahan melenyap seiring waktu.

Tags: Bolang Indonesia Photography sumatra

Apr 19 '14

Bulan Delapan.

Bismillahirrahmanirrahim

DSC_0755

Kau tahu apa yang paling aku takutkan dari semua pertemuan?
Ya, klasik. Perpisahan.Ketika ujung jari harus meratap,
dan tidak tahu kapan akan kembali bersalam.

Kau tahu apa yang paling aku takutkan dari semua perpisahan?
Kosong. Perasaan hampa yang merayap pelan-pelan,
merontokkan bunga-bunga perasaan.
Kamu kah; atau hanya khayalan?

Aku bunga; yang hanya mengharapkan satu…

View On WordPress

Tags: apapun Curcol imajinasi karangan L.O.V.E Mamase marriage My Poem(s)

Apr 18 '14

Bismillaah~
Heyhooo.. I am back. Sebulan penuh men nggak posting apapun di mari. Siklus kehidupan sekarang ini agak nggak jelas et causa mood yang terombang-ambing oleh badai kehidupan *halah. Penasaran aja, masih ada yang intip nggak yah ini blog. Sedih amat :cry:

Karena tidak ada ide mengenai apa yang akan diposting di sini; berhubung saya juga udah jarang banget cerita tentang kehidupan sehari-hari yang berkutat antara kuliah – ngerjain KTI – working out – galau – tidur dan diulang setiap hari, saya belum tergerak untuk bercerita apapun. Ditunggu aja *emang ada yang nunggu :roll: * cerita mengenai kehectican kehidupan saya selanjutnya.

So, for tonight, mesti pada males kan baca-baca tulisan panjang lebarnya saya :mrgreen: , jadilah sekarang saya mau aplot-aplot lagi foto si little Paulo. Yang belom kenal dia siapa, kenalan dong ;) , hehe. Intinya, kalau curious about who is he, silahkan klik link yang mengarah ke postingan sebelum ini :) . Edisi aplot fotonya Paulo di postingan ini tentang keliling daerah Malioboro. Kalau doi beneran ‘hidup’ saya yakin bakal seneng banget puas diajak jalan-jalan ama cewek-cewek cakep :lol: .

Ini postingan yang sangat amat ‘jadul’, udah lewat beberapa minggu, cuma karena saya suka foto-fotonya jadi aplot aja deh. Silahkan menikmati :D

DSC_0264He has arrived in Malioboro Street; one of the most famous tourism places in Indonesia :)

This slideshow requires JavaScript.

Very Late Post. Bismillaah~ Heyhooo.. I am back. Sebulan penuh men nggak posting apapun di mari. Siklus kehidupan sekarang ini agak nggak jelas…

Tags: apapun Hobbies Indonesia java Jogja Photography Postcrossing

Mar 30 '14

114,893 notes (via rahmahvma & happymonsters)

Mar 30 '14
Read a thousand books, and your words will flow like a river.
— Lisa See, Snow Flower and the Secret Fan (via bookmania)

23,300 notes (via rahmahvma & bookmania)

Mar 30 '14
If she stops caring, you lost her.
— (via t-author)

19,974 notes (via rahmahvma & t-author)

Mar 30 '14

1,616 notes (via leilockheart)

Mar 30 '14

185 notes (via islamic-art-and-quotes)

Mar 30 '14
So lovely!

So lovely!

(Source: Flickr / mywildlife)

18,705 notes (via abuhanifah & vurtual)